Tradisi Sekura merupakan warisan budaya masyarakat Lampung yang sarat makna. Dalam projek tersebut, siswa tidak hanya mengenal tradisi tersebut secara teori, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung melalui berbagai tahapan pembelajaran: pengenalan, kontekstualisasi, aksi, refleksi, hingga tindak lanjut.
Tahukah kamu bahwa siswa mempelajari perbedaan antara Sekura Betik/Helau dan Sekura Kamak/Calak?
Sekura Betik/Helau identik dengan busana yang rapi, indah, dan penuh hiasan, sedangkan Sekura Kamak/Calak tampil lebih sederhana, unik, dan jenaka. Dari perbedaan ini, siswa memahami bahwa setiap bentuk memiliki filosofi dan nilai sosial tersendiri dalam kehidupan masyarakat.
Tahukah
kamu bahwa siswa juga belajar langsung dari tokoh adat Lampung?
Melalui dialog dan diskusi, mereka menggali sejarah, nilai, serta pesan moral
yang terkandung dalam tradisi Sekura. Proses ini membuat pembelajaran menjadi
lebih bermakna dan kontekstual.
Tidak
berhenti sampai di situ, tahukah kamu bahwa siswa merancang sendiri gerakan
tarian, tetabuhan, dan musik tradisional Lampung?
Secara
berkelompok, mereka berkreasi menyusun iringan musik khas daerah, mendesain
kostum, membuat topeng dan penutup kepala, hingga menyiapkan properti kelas
untuk gelar karya. Kreativitas ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat
dikemas secara inovatif oleh generasi muda.
Melalui kegiatan projek, siswa tidak hanya belajar tentang budaya, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, kolaborasi, serta sikap menghargai keberagaman. Tradisi Sekura pun tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, melainkan pengalaman nyata yang mereka hidupkan kembali di lingkungan sekolah.
Melestarikan budaya tidak harus menunggu dewasa. Siswa SMAN 2 Bandar Lampung telah membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi penjaga sekaligus pengembang warisan budaya daerahnya dengan penuh semangat dan kreativitas.
Top of Form