Kelam menyelimuti Yastrib, sebuah daerah di dataran tinggi Najd, wilayah Hijaz sebelah barat kawasan Arab. Udara dingin mencekam, berbanding terbalik dengan cuaca siang yang panas menyengat.
Kesiur angin mengantarkan dentum batuan yang pecah di kejauhan akibat cuaca ekstrim gurun. Sesekali ditingkahi suara hewan padang pasir yang berderam-deram menahan dingin malam.
Dalam sebuah bilik berpelita redup, di kediaman Bani Najjar, seorang anak lelaki berusia enam tahun tampak duduk dengan gelisah. Rambut ikal sebahu meriap lembut, tertiup angin lembah yang menyusup dari kisi jendela kayu pada dinding batu.
Tubuhnya yang kecil sesekali tersentak-sentak, seirama suara cemeti yang terdengar dari ruang para budak. Mereka sedang menjalani dera dari para tuan pemelihara, meski kesalahannya tidak seberapa.
Pecutan cemeti berbaur dengan rintih kesakitan membuat anak lelaki itu memejamkan mata rapat-rapat. Kepalanya yang kecil sesak oleh tanya, hatinya yang murni terasa perih dan tidak dapat menerima.
Mengapa harus ada perbedaan di antara sesama manusia? Tidak adakah kasih sayang antara mereka yang kaya dengan para sahaya yang papa?
"Haus..., haus..., haus...," rintihan itu berdengung bagai lebah di kebun bunga yang ia datangi siang tadi bersama kerabatnya.
"Haus..., haus..., haus...," dengungan terdengar semakin lemah, terbawa gemerisik angin dari kebun kurma di sebelah barat permukiman.
Anak lelaki itu beranjak, berjalan ke arah dinding bilik dimana sebuah kantung kulit berisi air tergantung. Dibawanya kantung itu ke arah suara di seberang bilik. Langkah kecilnya tenang, wajahnya teduh bagai sinar bulan, tiada tergambar ragu dan ketakutan.
Dituangkannya air tanpa suara, diminumkan pada sesiapa yang merintih dahaga.
"Terimakasih, anak," ucap seorang lelaki tua.
Anak itu tersenyum lembut, mengusap wajah kuyu dan gelap dengan tangan kecilnya.
Ia datangi satu per satu para hamba, menuangkan air, membasahi bibir-bibir kering di hadapannya, menyentuh penuh kasih tangan-tangan kasar dengan jemarinya yang halus.
Ketulusan ia tebarkan melalui tatapan teduh matanya, ringan gerak gerik anggota tubuhnya.
Rintih derita para sahaya malam itu pun reda, berganti dengan dengkur lelah seharian bekerja.
Anak lelaki itu, kembali ke bilik yang disediakan baginya. Ia seorang tamu yang baru kali pertama berkunjung kesini, di tengah-tengah kerabat ayah dan ibunya.
Dari lisan sang ibu yang menceritakan sosok ayahnya dengan mata penuh cahaya, ia tahu ayahnya seorang lelaki yang sangat dikasihi oleh wanita ini.
Dari sambutan kerabat, baik yang tua maupun muda kepada dirinya, ia mengerti bahwa ayahnya orang yang sangat dicintai dan dihormati.
Sayangnya, ia hanya mengenal ayah dari kisah yang dituturkan ibu dan para kerabat. Ia terlahir sebagai yatim, dan kunjungannya ke lembah ini adalah untuk menziarahi makam ayahnya.
Di balik jendela-jendela dan dinding batu yang lain, beberapa pasang mata menatapnya penuh kagum dan cinta. Bagaimana bisa, dalam tubuh kecil anak lelaki ini, tersimpan kemuliaan yang tiada tara.
Empat puluh empat tahun kemudian, diantara mereka bahkan ada yang meregang nyawa dengan sukarela untuk membelanya, dalam perang-perang bersejarah menegakkan kalimat syahadat.
Anak Lelaki itu adalah Sang Teladan, panutan seluruh umat: Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Muthalib.